Membangun Keluarga Shalihah
Oleh: Drs. Saifuddin, M.Ag.
Mengapa kita umat Islam harus memperhatikan i.rhlah/perbaikan keluarga kita?
Pertama, besarnya tanggung jawab pemimpin keluarga di hadapan Allah tentang keluarganya. Bahkan kita diwajibkan untuk menyelamatkan mereka dari api Neraka. rlllah berfirman, “Ja,galab dirimu dan keluarSamu dari apiNerak,a.”(QS. At-Tahrim:6)
Kedua, perhatian terhadap keluarga adalah sarana paling besar untuk membangun masyarakat Islam. Jika setiap rumah tangga muslim baik dan shalih, maka otomatis akan baik pula masyarakatnya.
Ketzga, adanya kenyataan bahwa mayoritas rumah tangga umat Islam adalah penuh dengan kelalaian dari ketaatan kepada Allah. Bahkan tidak sedikit yang rumah tangganya dibangun hanya berdasarkan kepentingan duniaivi. Sehingga hal-hal yang menyangkut pendidikan agama dan ketaatan kepada Allah bagi keluarga tidak dipedulikan.
30 Wasiat Takwa di Bulan Puasa
146
: Kaum Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah
Bagaimana kita memulai membangun keluarga shalihah? Yang paling utama adalah memilih isteri/suami yang shalih. Inilah faktor yang dominan sehingga tercipta keluarga yang shalihah. tldapun unsur-unsur
. lain, bisa Ir,ita pertimbangkan setelah kita menemukan calon yang shalihah. 1Vlisalnya soal kecantikan atau ketampanannya, keturunannya atau hartanya. Karena isteri shalihah mendapat garansi langsung dari Rasulullah ~t bahwa la akan membahagiakan suarni dan seluruh keluarga.
“Dunia seluruhnya adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah isteri shalihah.” (HR. Muslim).
Sebaliknya, rumah tangga yang celaka dan sengsara adalah rumah tangga yang dibangun bersama isteri/suazni yang tidak shalih. Nabi bersabda,
“Dan termasuk kesengsaraan adalah isteri yang apabila yang engkau memandangnya engkau merasa engan, lalu dia mengungkapkan kata-kata kotor kepadamu. Dan jika engkau pergi daripadanya, engkau tidak merasa aman dengan dirinya dan hartamu.” (HR. Ibnu Hibban, shahih)
Bila kita sudah menikah, maka lihatlah siapa isteri kita itu. Kalau ternyata la kita dapati sebagai seorang wanita shalihah, maka bersyukurlah kepada Allah. Ini adalah anugerah yang sangat besar dari Allah, dan kita wajib menjaganya sehingga tetap z:rtigamah dalam keshalihan.
Tetapi bila kita dapati keadaan yang sebaliknya. Di mana isteri kita bukan termasuk wanta shalihah, jangan pula kita berkecil hati. Ketahuilah, bahwa termasuk nikmat yang besar adalah manakala kita diberi kekuatan oleh Allah untuk bisa mengubah isteri kita menjadi isteri yang shalihah. Bahkan Nabi Zakaria pun, dahulu isterinya adalah seorang wanita yang bukan shalihah, tapi kemudian dengan petunjuk Allah, Nabi Zakaria bisa membimbingnya. Hal ini diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an.
“Dan Kami perbaiki isterinya.” (QS. Al-Anbiya: 90). Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan, menjelaskan ayat tersebut Atha’ berkata, “Dahulunya isteri Nabi Zakaria adalah panjang lidah, kemudian Allah memperbaikinya.”
Untuk terciptanya keluarga shalihah, paling tidak kita harus membangun dan memperbaiki empat aspek. (1) Aspek keimanan keluarga (2) Aspek keilmuan keluarga (3) Aspek sosial keluarga dan_ (4) Aspek akhlak keluarga.
Marilah kita bahas satu persatu tentang aspek-aspek tersebut.
Pertama aspek keimanan keluarga.
Untuk membangun keimanan keluarga, di antaranya adalah dengan menjadikan rumah sebagai tempat Zikrullah (mengingat Allah). Zikrullah bisa kita wujudkan dalam bentuk dzikir dalam hati., dengan lisan atau dengan perbuatan, seperti shalat, membaca al-Qur’an, mempelajariilmu agama dsb.
Marilah kita analisa rumah kita. Benarkan kita sudah menjadikan rumah kita sebagai tempat Zikrullah? Ataukah justeru rumah kita saat ini jauh dari dtiikrullah?, siang malam yang terdengar bukan lantunan Al Qur’an, tapi suara-suara musik, lagu-lagu, suara pertengkaran, tertawa terbahak-bahak,, sinetron, film, menggunjing, berdusta dan mengadu domba?
Bagaimana mungkin rumah yang semacam ini, yang jauh dari dtiikrullah akan dimasuki oleh malaikat? Karena itu, marilah kita niatkan dan kita mulai usaha agar rumah kita saat ini menjadi tempat dtitktullah (mengingat Allah) bukan untuk melupakan Allah. Sebab Rasulullah Jit bersabda, “Perumpamaan rumah yang di dalamnya ada dzikrullah dan rumah yang tidak ada dzikrullah di dalamnya adalah seumpama antara yang hidup dengan yang mati.” (HR. Muslim)
Termasuk membangun keimanan dalam rumah tangga adalah dengan menjadikan rumah sebagai tempat beribadah. Allah berfirman, “Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudatanya, Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu sebagai kiblat dan dirikanlah shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 87)
Ibnu Abbas menegaskan, “Maksud disuruh menjadikan rumahrumah mereka sebagai kiblat yaitu mereka diperintahkan menjadikan rumah-rumah itu sebagai masjid (tempat ibadah).
Maka, jika kita ingin membangun ruh dan jiwa keimanan dalam rumah, hendaknya kita mulai saat ini untuk membiasakan shalat-shalat sunnah di dalam rumah kita, juga ibadah-ibadah yang lain. Karena shalat fardhu, khususnya bagi kita laki-laki adalah dilaksanakan denga:z berjamaah di masjid.
Lalu, tidak kalah keimanan bagi anggota anggota keluarga pada bersabda,
pentingnya adalah menjalankan pendidikan keluarga, seperti membangunkan istcri dan malam hari untuk shalat tahajud. Nabi bersabda, Allah mengasihi laki-laki yang bangun malam, kemudian shalat lalu membangunkan istrerinya sehingga shalat. Jika tidak mau, maka ia memerciki wajahnya dengan air” (HR. Ahmad dan Abu Daud, shahih).
Untuk mendidik anggota keluarga, termasuk anak-anak agar gemar berinfak, ada baiknya diletakkan kotak amal di rumah, yang setiap bulannya diserahkan ke masjid atau yayasan dakwah. Selanjutnya melatih keluarga puasa sunnah, membaca doa-doa yang diajarkan Nabi A, membaca surat al-Baqarah di rumah untuk mengusir setan dsb.
Aspek kedua untuk membangun keluarga shalihah adalah membangun aspek keilmuan dalam keluarga.
Di antara yang bisa kita lakukan adalah dengan menyelenggarakan pengajian keluarga yang dilakukan oleh kepala keluarga. Ini sebagai realisasi dari perintah Allah, “, jagalah diizmu dan keluaggamu dari api Neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Menafsirkan ayat tadi Adh Dhahhak dan Muqatil sebagaimana dikutip dalam tafsir Ibnu Katsir berkata, “Merupakan kewajiban setiap muslim mengajarkan keluarganya apa yang diwajibkan oleh Allah atas mereka dan apa yang dilarang-Nya.”
Karena itu, betapapun kita sebagai kepala rumah tangga sibuk dan padat dengan kegiatan di luar rumah, jangan sampai kita tidak sempat meluangkan waktu untuk mengajari keluarga, mengajari isteri dan anak-anak. Nlisalnya satu kali dalam seminggu. Selain hal ini bermanfaat untuk menambah ilmu agama, kesempatan tersebut juga merupakan kesempatan untuk mengakrabkan keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.
Kita bisa membacakan buku-buku agama yang sudah banyak diterjemahkan. Misalnya kita bisa membacakan Kitab Terjemahan Tafsir Ibnu Katsir, atau terjemahan kitab tauhid, terjemahan kitab Riyadhus shalihin dsb. Selain itu, kita bisa mendirikan perpustakaan keluarga, baik perpustakaan buku maupun kaset/CD/MP3. Saat ini kita dimudahkan Allah dengan banyaknya buku-buku agama, kaset/CD/MI’3 yang akan menuntun kita mengetahui agama Allah. Tetapi perlu diingatkan di sini, agar kita memilih buku-buku yang berdasarkan 111-Qur’an dan AsSunnah vang shahih dengan pemahaman yang lurus.
Kita juga sewaktu-waktu bisa mengundang orang-orang shalih, ulama dan penuntut ilmu ke rumah kita, lalu kita membicarakan dengan mereka berbagai persoalan agama, selanjutnya kita jamu mereka dengan hidangan dari rizki yang diberikan Allah kepada kita.
Aspek ketiga untuk membangun keluarga shalihah adalah membangun aspek sosial dalam keluarga. Allah berfirman, “Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka”. (QS. Asy-Syura: 38)
Berdasarkan ayat tadi, kita sebagai kepala keluarga hendaknya memberi kesempatan kepada anggota keluarga untuk sama-sama mendiskusikan masalah intern dan ekstern kcluarga. Hal inilah di antaranya yang akan mempererat hubungan antaranggota keluarga, peran dan saling kerjasama di antara mereka.
Bila ada perselisihan atau konflik hendaknya hal itu tidak ditampakkan di depan anak-anak. Sebab hal tersebut akan memecah belah keluarga, belum lagi pengaruhnya secara kejiwaan kepada anak-anak.
Termasuk membangun aspek sosial keluarga adalah hendaknya kita memperhatikan pergaulan anak-anak kita. Dengan siapa mereka bergaul? Apa yang mereka lakukan di luar rumah? Bagaimana saat mereka di sekolah atau kampus? Tetapi hendaknya pengawasan seperti ini dengan diam-diam agar anak-anak tidak kehilangan kepercayaan diri mereka.
Lalu tidak kalah pentingnya tentang aspek sosial dalam keluarga adalah menjaga rahasia rumah tangga. Termasuk dalam kategori rahasia keluarga adalah tidak menyebarkan rahasia hubungan intim suami isted, tidak membawa keluar rumah percekcokan suami isteri, sehingga orang lain mendengar, juga hendaknya tidak membuka rahasia atau privasi apapun yang akan membahayakan rumah tangga.
Aspek keenrpat untuk membangun keluarga shalihah adalah membangun akhlak keluarga. Hal yang sangat penting dalam membangun akhlak keluarga adalah membiasakan kelembutan, keramahan dan pergaulan yang baik didalam rumah. Sebaliknya hendaknya dihilangkan perilaku dan kata-kata kasar. Dengan demikian keluarga betul-betul bertabur dengan cinta dan kasih sayang. Bukan sebaliknya, sering terjadi keributan dan cekcok di antara anggota keluarga.
Hal yang juga yang harus ditradisikan adalah bergotong royong dalam pekerjaan rumah tangga. Masing-masuig diberi tugas pekerjaan rumah tangga, termasuk anak-anak, sehuigga melatih mereka untuk bertanggung jawab.
Ketika ditanya tentang apa yang dikerjakan oleh Rasulullah di rumahnya, Aisyah mengatakan, “Beliau adalah manusia biasa sebagaimana kalian. Beliau membersihkankan bajunya, memerah susu kambingnya dan melayani dirirya.” (HR. Ahmad, shahih)
Termasuk membangun akhlak keluarga adalah mencairkan hubungan di antara sesama anggota keluarga dengan bercanda dan halhal yang bisa semakin mempererat hubungan keluarga. Bahkan Rasulullah menasihati jabir agar menikahi wanita yang masih gadis, dengan alasan agar bisa mencandainya. Beliau bersabda,“Kenapa (tidak engkau pilih) gadis, sehingga engkau bisa mencandainya dan engkau bias membuatnya tertawa dan dia membuatmu tertawa (HR. Bukhari)
Ternyata, banyak yang harus kita lakukan untuk membangun keluarga shalihah, keluarga yang akan menyelamatkan kita semua dari api Neraka. Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk bisa membangun keluarga shalihah, sehingga kita bersama keluarga bahagia, di dunia maupun nanti di Akhirat. Amin.